Hexagon Cup 2026: Rivalitas Tapia–Coello Panaskan Format Baru di Madrid
Share
Madrid bersiap menjadi pusat semesta padel dunia. Awal Februari 2026, Caja Mágica kembali membuka atapnya untuk menyambut ajang beregu paling bergengsi — Hexagon Cup. Namun kali ini, bukan sekadar trofi yang diperebutkan, melainkan juga gengsi dan harga diri dua bintang besar: Agustín Tapia dan Arturo Coello, mantan rekan yang kini berhadapan sebagai rival utama.
Turnamen edisi ketiga ini tak hanya menjanjikan aksi spektakuler, tetapi juga membawa format baru yang digadang-gadang akan mengubah wajah padel profesional. Kombinasi sistem tim, kategori Next Gen, dan strategi draft pemain membuat Hexagon Cup 2026 terasa seperti eksperimen paling berani dalam sejarah olahraga ini.
Format Baru, Strategi Baru
Delapan tim campuran akan tampil di Caja Mágica, masing-masing terdiri dari tiga pasangan: pria, wanita, dan Next Gen — kategori yang tahun ini dikhususkan untuk pasangan pria muda. Setiap tim harus bermain cerdas, karena setiap pertandingan membawa poin penentu menuju babak final.
Fase grup akan berlangsung selama empat hari intens, diakhiri dengan final pada 1 Februari. Sistem ini bukan hanya menguji teknik dan stamina, tetapi juga chemistry antarpemain lintas kategori. Tim yang mampu menjaga konsistensi dan adaptasi formasi akan unggul. Di sinilah keunikan Hexagon Cup: padel bukan lagi permainan dua orang, tapi collective performance yang menuntut keharmonisan dalam kompetisi.
Lebih jauh, format ini juga memberi ruang besar bagi regenerasi. Kategori Next Gen mempertemukan pemain muda terbaik dunia dalam satu panggung bersama para bintang senior. Kombinasi pengalaman dan eksplorasi menjadi kunci daya tarik baru turnamen ini.

Tapia vs Coello: Dari Rekan ke Rival
Tak ada kisah yang lebih menarik di edisi kali ini selain benturan dua nama besar itu. Agustín Tapia dan Arturo Coello — pasangan yang mendominasi padel dunia dalam dua musim terakhir — kini resmi berpisah jalan. Mereka dulu dikenal sebagai duet yang nyaris sempurna: Tapia dengan permainan eksplosif penuh intuisi, dan Coello dengan ketenangan serta efisiensi mekanis yang mematikan.
Namun kini, harmoni itu berubah menjadi ketegangan. Keduanya akan memimpin tim berbeda di Hexagon Cup, dan publik pun tak sabar melihat siapa yang keluar sebagai penguasa baru. Dalam wawancara beberapa waktu lalu, Tapia sempat berujar, “Bagaimana bisa kita tahu siapa yang terbaik? Padel dimainkan berdua.” Kini, Hexagon Cup 2026 akan menjawab pertanyaan itu di lapangan, bukan lewat kata.
Rivalitas ini lebih dari sekadar perebutan kemenangan. Ini adalah duel dua filosofi permainan — seni versus struktur, improvisasi versus kalkulasi. Keduanya punya karisma dan daya tarik tersendiri, dan kehadiran mereka menjamin turnamen ini tidak akan sepi drama.
Madrid, Rumah dari Spektakel
Caja Mágica, markas Hexagon Cup sejak edisi perdana, akan kembali menjadi jantung atmosfer padel global. Arena berkapasitas 12.000 penonton itu dikenal karena pencahayaan dramatis dan akustik yang menggema di setiap pukulan bola. Tahun ini, penyelenggara menjanjikan pengalaman penonton yang lebih megah — mulai dari zona interaktif, sesi meet and greet, hingga fan fest yang membawa nuansa festival olahraga.
Namun di balik kemeriahan itu, tekanan kompetitif akan sangat terasa. Dengan 18 dari 20 pemain top dunia turun bertanding, tak ada ruang untuk kesalahan. Setiap poin adalah pertaruhan reputasi. Setiap tim membawa ambisi besar, dari skuad veteran seperti Rafa Nadal Academy hingga tim baru yang ingin mencuri perhatian dengan strategi agresif.
Lebih dari Sekadar Turnamen
Hexagon Cup sejak awal berdiri punya misi yang jelas: mengubah cara dunia memandang padel. Ia tak hanya menjadi kompetisi profesional, tapi juga ajang yang merayakan semangat tim, inovasi, dan keterlibatan fans. Kombinasi antara olahraga, hiburan, dan nilai edukatif menjadikan turnamen ini magnet bagi sponsor, media, dan penonton lintas generasi.
Bagi para pemain muda, ajang ini ibarat panggung debut. Bagi bintang seperti Tapia dan Coello, Hexagon Cup adalah ajang pembuktian siapa yang benar-benar pantas menyandang status the face of modern padel.
Babak Baru di Dunia Padel
Ketika lampu-lampu Caja Mágica mulai redup dan lagu pembuka menggema, semua mata akan tertuju ke dua sosok di ujung lapangan — Tapia dan Coello. Dua pemain yang dulu berjalan bersama, kini berdiri berhadapan. Tak ada lagi ruang untuk nostalgia. Hanya performa, strategi, dan keberanian yang berbicara.
Hexagon Cup 2026 bukan sekadar kompetisi beregu. Ia adalah simbol bagaimana padel terus berevolusi — menjadi lebih strategis, lebih berani, dan lebih personal. Dan jika semua berjalan sesuai ekspektasi, Madrid tak hanya akan menjadi tuan rumah turnamen besar, tapi juga saksi lahirnya babak baru dalam sejarah rivalitas paling menarik di dunia padel modern.